Englishformuslim
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Senin, 03 Juli 2017

Korelasi antara Bahasa Inggris, Islam dan Indonesia
Oleh Oktaviansyah Yahanan[1]
Email: oktaviansyahyahanan@gmail.com

“Aku sendiri berangan-angan, andai saja aku bisa menguasai bahasa Inggris. Sungguh, aku melihat terdapat manfaat yang amat besar bagi dakwah jika saja bahasa Inggris bisa dikuasai. Karena jika kita tidak menguasai bahasa tersebut, bagaimana kita bisa berdakwah jika ada yang masuk Islam di hadapan kita”
(syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin)

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Bahasa ini merupakan bahasa ibu untuk lebih dari 400 juta orang diseluruh dunia. Dalam setiap hari jutaan orang menggunakan bahasa inggris di tempat kerja maupun di kehidupan sosial. Ketika kepala pemerintahan bertemu, Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling sering digunakan. Dan ketika orang-orang dari bangsa yang berbeda saling bertemu, bahasa inggris adalah satu-satunya bahasa penghubung yang digunakan oleh mereka.[2]  Menurut Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Univeritas Negeri Yogyakarta, banyak orang belajar bahasa Inggris bukan semata-mata karena berminat mempelajarinya, melainkan karena banyak peluang yang akan diperoleh dengan menguasai bahasa tersebut.[3] Banyak perusahaan asing dan nasional yang mensyaratkan penyertaan sertifikat kemampuan bahasa Inggris yang otentik. Disini dapat dilihat bahwa menekankan pentingnya latihan berkomunikasi dengan bahasa Inggris dibandingkan hanya dengan mempelajari teori saja.  Sebab, yang dibutuhkan bukan lagi sekedar bisa bahasa Inggris. Namun benar-benar mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan aktivitas di dunia Internasional.[4]  Keterampilan berkomunikasi skala internasioal dapat memberikan dampak kemajuan pada korporasi dan institusi negara. Sebaliknya ketidakmampuan berkomunikasi skala internasional dapat memberikan efek lemahnya daya saing sebuah korporasi atau daya saing sebuah negara.
Saat ini aktor hubungan internasional tidak hanya negara, Individupun telah diakui sebagai aktor internasional yang mampu membawa dampak terhadap situasi politik, ekonomi, olahraga, sosial-budaya dan peradapan dunia. Dari dahulu Islam memiliki kualitas individu yang bermutu diberbagai bidang dan mampu memberikan dampak perubahan fundamental terhadap peradapan dunia. seperti Ibnu Chaldun sebagai bapak sejarah dunia, Ibnu Shina sebagai bapak dokter modern dan Utsman bin affan seorang yang pandai dalam tulis baca dan dapat menguasai bahasa kaum Ibrani (Israel) hanya membutuhkan 14 hari saja.  Tentunya prestasi mereka telah dicatat oleh sejarah. Kaitannya dengan utsman bin Affan. Didalam satu riwayat Rasul pernah berkata kepada utsman, apakah beliau bisa bahasa Ibrani, maka dengan segera Utsman belajar bahasa tersebut. Disini kita dapat menginterpretasikan bahwa pentingnya sebuah bahasa, bukankah Rasul juga berkata “apabila kamu tidak mau tertipu oleh sebuah kaum makan kuasailah bahasa kaum tersebut”.
Di dalam dunia kontemporer saat ini, Bahasa merupakan alat pembuka berbagai macam literatur yang berguna bagi peradapan Islam di masa depan. Karena lebih dari 80 % literatur dunia ditulis dalam bahasa Inggris. Kampus-kampus yang menjadi referensi dunia adalah kampus yang notabene-nya berada di negara-negara yang berbahasa Inggris. Sebut saja Oxford, cambridge, Harvard, Ohio, Webster dan lain sebagainya.
Saat ini, harus diakui kemampuan berbahasa Inggris masyarakat dunia Islam cenderung rendah. Itu berdampak pada kesulitan  masyarakat dunia Islam untuk turut memperkaya dunia dengan norma-norma, nilai-nilai, budaya dan peradapan Islam. Kondisi ini diungkapkan oleh pejabat Presiden International Islamic Univeristy Islamabad (IIUI), Sajidur Rehman. “Bahasa sebagai media komunikasi dan penanaman ide-ide, konsep, cita-cita dan nilai-nilai memainkan peran yang sangat penting”.[5]



Saat ini kita belum banyak melihat orang-orang cerdas Islam mampu memberikan warna dunia, yang mampu “berdebat” hingga berdampak pada perubahan yang lebih mengutungkan dunia Islam. Opini Internasional selalu dibentuk dan “dimenangkan” oleh Pihak-pihak Barat. Saya hendak mengatakan bahwa, bisa jadi apa isu-isu negatif tentang Islam didunia internasional adalah ketidak mampuan kita sebagai muslim untuk berbicara, berdiskusi atau berdebat dalam bahasa Inggris. Bukankan Rasul berdakwahlah sesuai dengan bahasa Kaum. Kaum saat ini lebih mengerti bahasa Inggris. Memang tidak dapat dipungkiri bahasa Arab adalah bahasa paling penting bagi Umat Islam. Tapi saya hendak mengatakan bahwa bahasa Inggris saat ini adalah bahasa yang paling banyak dipelajari diseluruh dunia. Muslim tidak semestinya mengkotak-kotakan penting mana arab, inggris ataupun bahasa lainnya. Bukankah tidak ada larangan menguasai banyak bahasa. Hendaknya kita harus kembali merenungkan  hadist arbain  yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niat. Kita tidak dapat dengan cepat men-judge orang yang belajar bahasa Inggris, mereka belajar bahasa orang kafir. Faktanya banyak Muslim Barat yang berbahasa Inggris. Jadi dalam kasus ini kita harus lebih bijak dalam menilai sebuah bahasa.
Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar didunia.[6]  Saat ini  memiliki surplus anak-anak muda, lebih dari 60 % Indonesia dihuni anak-anak muda yang berusia produktif. Didalam peradapan Islam, pemuda selalu menjadi agen of changes. Seperti Sayyidina Ali, Muhammad Al fatih, utsman bin affan. Diera saat ini pemuda Islam harus diarahkan kepada 2 hal: iman yang kuat untuk mengarahkan pemikiran yang kritis dan pemikiran yang kritis untuk membangun iman yang  yang kuat.[7] Sudah selayaknya suara muslim Indonesia didengar. Sudah semestinya Indonesia menjadi representatif dunia Islam. Rektor univeristas Gadja Mada mengatakan pentingya memberikan porsi yang besar terhadap wawasan Internasional [8].  Setidaknya ini membuktikan bahwa Islam bukan hanya Arab. Namun Islam adalah rahmatat Lillamin. Indonesia dengan ras yang sangat jauh berbeda, budaya yang sangat berbeda dan pola pikir yang lebih moderat lebih mampu menjadi jembatan penghubung antara kaum Konservatif dan modernis, antara barat dan timur, antara Islam dan Barat. Ini bukan maksud saya untuk mengaggap kita lebih baik. Tapi saya hendaknya kita bersyukur dengan kita punya sekarang. Seperti salah satu partai bilang Indonesia lebih cenderung damai dan aman dibandingkan Timur Tengah.  Tidak berlebihan jika saya mengatakan jika Anda ingin melihat Islam itu indah maka bangunlah Indonesia ini. Didalam era demokrasi suara terbanyak itulah yang paling didengar. Pesan saya untuk Muslim Indonesia kita berikan teladan yang baik untuk saudara-saudara Muslim yang masih mengkotak-kotakan untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsipil apalagi soal hanya bahasa. Bukankah akar dari semua bahasa dari bahasa Arab.
Salah satu Ulama berkata jika mau melihat Islam ini Indah maka bangun Indonesia ini. Ini menunjukkan begitu beartinya Indonesia dimata dunia. Jika Indonesia jelek yang patut paling disalahkan adalah masyarakat muslimnya. Ini menegaskan bahwasanya membangun Individu Muslim Indonesia begitu bearti karena menjadi salah satu indikator/bukti bahwa Islam itu membawa rahmat bagi suatu bangsa jika benar-benar taat menjalani perintah Allah. Dalam hal ini, Saya melihat Individu Muslim Indonesia perlu diberikan bekal kemampuan bahasa Inggris agar bisa mampu bersaing dikancah global dan mudah-mudahan dapat menjadi anggota dalam barisan  dakwah. Sudah saatnya suara-suara Muslim Indonesia didengar di dunia internasional. Jangan lagi kita mendengar Islam hanya diwakili oleh Timur Tengah, Pakistan bahkan India yang mayoritas masyarakatnya Hindu. Tampilnya muslim Indonesia dikancah internasional bukan bearti menujukkan arogansi apalagi mengkotakan diri. Tapi lebih untuk mewarnai dunia Islam. Yang menjadi refleksi Islam rahmatan lillamin. Secara sengaja atau tidak sengaja, pembelajaran bahasa  inggris sebagai bahasa asing mengandung pengenalan norma dan budaya yang terbawa dalam bahasa Inggris yang tidak jarang berbeda atau bertentangan dengan ajaran Islam. Menurut Dr. Zulianti Rohmah, M.Pd pengajaran Budaya tak terhindarkan dalam pembelajaran bahasa karena “many lingustic symbol cannot be interpret without knowing their cultural contents several aspects do exist beyond the lexical symbols”. Inilah yang menyebabkan sebagian kalangan ulama kita mengharamkan bahasa Inggris karena ada pembelajaran budaya yang “terselubung” didalam bahasa Inggris. Oleh karena itu untuk meminimalisir hal tersebut saya menciptakan sebuah metode belajar bahasa Inggris yang Insha Allah selaras dengan kepentingan Islam. saya mencoba mengintegrasikan Nilai-nilai Keislaman, dan berhubung saya berasal dari Indonesia. Islam dalam konteks keIndonesia sangat melekat di metode ini. Tentunya tidak mengurangi dari pesan Islam itu sendiri.  Metode belajar bahasa Inggris yang saya lakukan dengan 4 cara:
  1. Menambahkan Latihan-latihan yang mencerminkan nilai-nilai Islam dan Indonesia kedalam topik yang diajarkan
  2. Menyisipkan nama-nama Islami untuk orang, tempat atau peristiwa kedalam latihan-latihan.
  3. Melampirkan kutipan ayat-ayat Al quran dan hadist yang relevan dengan topik materi utama pembelajaran
  4. Mencampur ungkapan-ungkapan khas Islami dan Indonesia dengan ungkapan  bahasa Inggris yang sesuai dengan materi utama pembelajaran.
  5. Menggunakan Authentic Material yang diambil dari kehidupan Muslim di English Speaking Countries, seperti Dvd, rekaman radio, rekaman TV, surat kabar, Novel, majalah, brosur, lagu, kalender dan lain-lainnya.
Ini saya lakukan karena mengutip dari perkataan Prof. Tariq Ramadan, umat Islam harus menahan diri menggunakan benar-benar berbaur didunia barat, tetapi umat Islam harus mampu dapat menjaga Izzah (bertahan diri dari serangan luar) dan mempunyai “rasa” memiliki dalam komunitasnya. Jangan sampai berbaurnya umat Islam membuat mereka lalai terhadap Islam, bahkan jangan sampai menjadi hilang jiwa Keislamannya. Untuk memudahkan Muslim Indonesia belajar bahasa Inggris, saya menggunakan media online yaitu Website. Ini dikarenakan perkembangan internet di Indonesia sudah cukup baik. Seperti menteri Komunikasi dan Informasi bapak Tifatul Simbiring bahwa Trend media saat ini berpindah ke media online. Hal ini juga selaras dengan diungkapkan oleh Dr Yusuf Qardawi, beliau mengatakan menggunakan internet untuk menyampaikan maklumat Islam dan suara Islam, serta memperlihatkan Islam merupakan satu Jihad Utama.  Dalam memgembangkan website ini, saat ini saya menggerakannya semuanya. Namun dikemudian hari saya hendak melibatkan semua pihak terutama para guru bahasa Inggris, ulama, mahasiswa dan aktivis dakwah dari nasional maupun interanasional untuk terlibat mengembangkan englishformuslim.com ini. Pemuda saat ini harus di tanamkan iman yang kuat untuk mengarahkan kepemikiran kritis dan pemikiran kritis untuk membangun iman yang kuat.
KESIMPULAN
 

kesimpulan: sudah tidak dipermasalahkan lagi hukum belajar bahasa Inggris. boleh jadi bisa mendekati wajib karena Maslahatnya lebih besar daripada mudharatnya. sebagai contoh bayangkan saja kalau tidak ada bahasa Indonesia, bagaimana berbagai suku di Inodnesia bisa berkomunikasi saling membangun pengertian. begitu juga dunia ini. kebetulan bahasa Inggris yang paling banyak dipakai dan digandrungi. jadi suka atau tidak suka harus dipelajari karena ini merupakan kebutuhan. bukankah Rasul bilang berdakwalah dengan bahasa kaumnya.










[1] Oktaviansyah Yahanan adalah Pendiri Englishformuslim.com, sebuah website sosial belajar bahasa Inggris dirancang khusus untuk umat Muslim. Beliau juga adalah Penulis buku berjudul What I Believe About English Muslim. Semasa studi Beliau pernah menjabat sebagai ketua Lembaga Dakwah kampus dan pernah menjadi Student Ambassador, studi banding ke Curtyn Univeristy Australia

[7] Dikutip dari wawancara dengan Tariq Ramadan ketika hadir di Indonesia, beliau adalah Guru besar Islamic Study Kontemporer Oxford university UK.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar