Englishformuslim: Bahasa Inggris bahasa orang kafir?
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Minggu, 18 Juni 2017

Bahasa Inggris bahasa orang kafir?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa kebiasaan orang tua, sadar atau tidak sadar, akan menurun kepada anaknya. Terlihat ataupun tidak. Entah apa mekanisme di balik hal tersebut. Kadang saya terkejut dengan kelakuan 'random' anak saya, tapi dengan cepat pupus oleh satu memori bahwa saya pun pernah melakukan kegilaan yang sama dulu. I did the same thing before. Seperti pagi ini. Ketika saya membaca jawaban anak saya untuk pekerjaan rumah pelajaran Bahasa Inggrisnya di sekolah. 'My father is a jikken' , tertulis sebagai jawaban untuk pertanyaan : "apa pekerjaan ayahmu?". Jikken (実験) dalam Bahasa Jepang, dimana anak saya pernah tinggal dulu, artinya eksperimen. Untuk menggambarkan bapak nya yang berkeja di laboratorium. Saya dan anak saya sepertinya punya masalah yang sama dalam Bahasa Inggris sepertinya. Secara praktis, saya belajar bahasa Inggris pertama kali lewat lagu "My Bonnie Lies Over the Ocean". Guru Bahasa Inggris kami, yang mengajarkannya sebagai selingan saat awal masuk SMP. Saat menyanyikan lagu itu, saya sadar sepenuhnya, bahasa ini ribet membuat lidah "ketekuk-tekuk" . Saya punya impresi awal yang buruk dengan bahasa ini. Impresi ini berubah ketika kelas reguler dimulai, guru Bahasa Inggris pertama kali di kelas kami saat itu cukup menyegarkan mata. Cantik. Lidah rasanya agak rileks bertutur "My name is ..." atau "I am fine, and you?". Greeting standar yang diajarkan saat itu. Rasanya bukan cuma saya, sebagian besar teman sekelas selalu semangat setiap kali pelajaran itu dimulai. Guru saya membangun ketertarikan saya terhadap bahasa ini. Nilai saya di raport pun cukup baik untuk mata pelajaran ini. Saya tidak ingat siapa guru saya di kelas 2 SMP, tapi yang jelas saya bertemu lagi dengan guru yang mengajarkan "My Bonnie" di tahun ketiga. Beliau kembali lagi sukses membuat saya berfikir bahasa ini luar biasa susah. Impresi buruk saya kembali muncul, dan malas belajar lebih jauh. Ketika saya "curhat" susahnya bahasa ini ke beliau dalam suatu obrolan di luar kelas, beliau dengan mudah menenangkan saya, "biar saja, bahasa orang kafir tidak perlu terlalu serius belajar, cukup tahu saja". Dan itu cukup memotivasi saya untuk berhenti belajar bahasa ini lebih jauh. Bahasa orang kafir. Impresi ini terbawa hingga saya SMA. Saya belajar bahasa ini hanya untuk sekedar "lolos" dari ulangan-ulangan atau ujian. Tidak terfikirkan ke depan saya akan menggunakan bahasa ini, atau bahasa ini akan diperlukan di masa depan saya. Walhasil, saya lulus SMA dan masuk universitas dengan bahasa inggris yang belepotan, grammar hancur. Jangan tanya pula pronounciation nya. Kombinasi logat Cirebon dan Timbuktu. Di awal kuliah, saya benar-benar mati kutu dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dosen menerangkan dalam Bahasa Inggris, dan diktat kami dalam bahasa kafir pula. Habislah saya. Dua tiga minggu awal saya sama sekali tidak paham apa yang sedang diucapkan dosen. Ketika banyak teman di ruang kuliah secara aktif bertanya, komentar dan seterusnya dalam Bahasa Inggris, saya cuma melongo sambil bertanya-tanya dalam hati: mereka makan apa? Satu teman saya bahasa Inggrisnya sudah level akhirat sejak di tingkat satu. Ketika di ajak main kerumahnya dan menonton beberapa DVD tanpa subtitle, dia bisa tertawa lepas. Sementara saya sukar menemukan kelucuannya. Karena tidak faham sama sekali. Saya ingat persis salah satu adegan dalam miniseri Bond of Brothers yang membuat tertawa adalah ketika salah satu pemeran Friends (saya lupa namanya) yang berperan sebagai instruktur dikerjai oleh prajurit-prajurit didikanya. Dia tertawa, yang lain tertawa, saya cuma cengengesan biar dikira faham. Padahal yang cuma saya faham dari miniseri itu adalah adegan saat salah seorang prajurit sedang berhubungan seks dengan penduduk lokal lalu tiba-tiba atasanya masuk ke ruangan itu tanpa ketok pintu dan memerintahkan sesuatu seolah-olah tidak ada apa-apa. Itu ada di bagian seri terakhir kalau anda mau mengecek. Belakangan saya sadar, rekan saya punya kemampuan bahasa ini dengan sangat baik karena dimulai dengan rasa minat, dan sesuatu yang menyenangkan. Film, komik, atau apapun. Bisa jadi dugaan saya salah, tapi rasanya mendekati kebenaran. Saya sadar impresi buruk saya tentang bahasa ini salah besar. Itu mempengaruhi minat dan "kenyamanan" belajar. Dan saat itu, saya merasa sudah terlambat membangun itu semua. Yang bisa saya lakukan minimal, bagaimana bisa survive. Maka strategi saat SMA kembali diterapkan. Minimal lolos UTS-UAS pelajar ini. Minimal bisa ngerti buku teks yang diperlukan saat bikin laporan praktikum, mengerti referensi untuk bikin skripsi, dan seterusnya. Pada akhirnya, kemampuan bahasa saya tetap buruk. Grammar masih berantakan. Ringkasan skripsi saya dalam Bahasa Inggris habis "dicacah" dosen pembimbing. Pronounciation saya kacau balau. Salah satu dosen saya saat itu suka "membully" saya dengan menyebut Inggris Blitar, tanpa Timbuktu. Bahkan dalam suatu wawancara di ajang tertentu, dosen dari fakultas lain "menantang" saya untuk mengucapkan kata "high" secara benar. Dan ketika saya dengan percaya diri mengucapkan "haig" (dengan "g" kental"), respon sang dosen cuma, "Oh". Saya terpaksa belajar bahasa ini lagi karena persyaratan studi di luar negeri. Entah meningkat atau tidak hasilnya, tapi tetap itu bagian dari strategi survival saya. Setidaknya dalam berkarir di bidang saya. Sampai sekarang, strategi "survival" ini masih saya lakukan. Pada tahun-tahun awal di Jepang bahkan pernah "tercampur" Bahasa Inggris dan bahasa asal. Dengan lantang saya menyebut "Loop 7"  dengan literasi `lup tujuh` di depan semua orang saat presentasi. Yang lain melongo tidak faham. Sementara dua senior saya dari Indonesia cekikikan di kursi belakang. Strategi yang salah tentu saja. Tapi tidak ada pilihan lain. Kombinasi antara keterbatasan kemampuan liguistik dalam otak saya dengan impresi yang buruk adalah kombinasi dahsyat untuk merusak kemampuan bahasa saya. Dan saya tidak ingin menurunkan ini ke anak saya. Cilakanya, berbeda dengan saya yang menganggap bahasa ini susah, anak saya justru memandang remeh bahasa ini. Benar-benar memandang remeh. Efek dari nilai tinggi saat ujian awal. Ujian berikutnya dia menolak belajar, atau malas-malasan belajar dengan alasan : gampang !  Hasilnya? Jeblok ! Alasan yang dia bangun : buru-buru saat ujian. Hasil jeblok tidak membuat dia kapok. Beberapa hari lalu mengulang lagi "malas-malasannya". Hasilnya ? ya "My father is a jikken" ! Bapa dan anak berada dalam dua kondisi ekstrem yang bertentangan. Yang satu merasa sangat susah, yang kecil menganggap super gampang.  Efeknya? sama-sama males belajar ! Sepertinya saya harus lebih keras mencegah kegagalan saya dalam Bahasa Inggris menurun kepada anak saya. 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hatchiko/bahasa-inggris_57b052ac969373c613b95dd0

Tidak ada komentar :

Posting Komentar