Englishformuslim: Bisu dan Tuli Saat Berada di Negara Berbahasa Inggris
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Jumat, 05 Desember 2014

Bisu dan Tuli Saat Berada di Negara Berbahasa Inggris

 oleh Herry C Sancoko
TEORI bahasa Inggris saya sebenarnya tidaklah jelek banget. Sejak bahasa Inggris diajarkan di bangku SMP, nilai-nilai raport saya selalu di atas angka delapan. Hingga di universitas, nilai bahasa Inggris saya selalu baik. Juga dalam les-les bahasa Inggris yang saya ikuti, nilai akhir yang saya dapat lumayan bagus.
Sewaktu mahasiswa di Yogyakarta, kadang memberanikan diri ngajak ngomong turis untuk praktek bahasa Inggris. Saat itu saya tidak merasa ada kekurangan dalam bahasa Inggris saya, sampai saya datang ke Australia. Negara dengan bahasa sehari-harinya bahasa Inggris.  Saya datang dengan rasa percaya diri yang besar terhadap kemampuan bahasa Inggris saya.
Sejak SMA saya sering mengikuti siaran radio ABC.  Terutama siaran pelajaran bahasa Inggrisnya.  Dengan gelombang radio yang naik turun dan kadang kemrosok, saya rajin mengikutinya.  Berita-berita dalam bahasa Inggris kadang juga saya dengarkan.  Mempertajam pendengaran dalam menangkap kata-kata dalam bahasa Inggris amat saya butuhkan. Karena kadang amat susah menangkapnya. Tentu saja waktu itu belum ada internet sehingga bisa lebih memudahkan untuk belajar. Sekarang setelah ada internet, pelajaran bahasa Inggris dari Radio ABC ini bisa didownload dengan mudah (lihat di sini).
Begitu berada di Australia, sebelum terlibat dengan kegiatan sehari-hari saya menikmati bulan madu di negara baru. Semua serba lain. Aneh.  Kerjaan saya pada minggu-minggu pertama keluyuran lihat tempat pariwisata. Tidak menyangka kini saya berada di negaranya orang kulit bule dan ganti jadi turis. Semua berbahasa Inggris. Kadang terasa aneh di telinga.
Persoalan baru timbul saat saya mulai mencari pekerjaan.  Saya mengalami kesulitan saat melakukan wawancara.  Padahal saat di tanah air, saya juga pernah diwawancarai dengan memakai bahasa Inggris dan rasanya bahasa Inggris saya jauh lebih baik dan lancar dari si pewawancara.  Tapi ketika diwawancarai oleh penduduk asli orang yang berbahasa Inggris, saya seolah menjadi bisu dan tuli.  Kata-kata yang diucapkan susah sekali bisa saya mengerti semuanya, hanya sepenggal-sepenggal.
Listening
Beberapa pekerjaan saya lamar tidak pernah sukses. Saya tidak tahu apa sebabnya. Pertama yang saya duga sebagai sumber masalah adalah kemampuan bahasa Inggris saya yang pasti dinilai miskin oleh pewawancara.  Kemampuan untuk mengerti omongan orang dalam bahasa Inggris merupakan kesulitan terbesar saat di Australia. Kelemahan saya adalah dalam hal listening. Kalau saja yang ngajak ngomong itu mau menuliskan apa yang diomongkan, tidak masalah bagi saya. Kadang saya tahu benar artinya jika ditulis.  Tapi begitu diucapkan oleh orang Australia, suara yang keluar benar-benar tidak bisa saya tangkap dan mengerti.
Kata-kata Inggris diucapkan secara bersambung dan dengan intonasi sangat cepat. Sesuatu yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita dalam menggunakan bahasa ibu.  Jika lawan bicara saya berbicara pelan dan dengan diksi jelas, tidak masalah bagi saya.  Namun dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang bisa ngomong jelas dan dengan diksi serta intonasi jelas. Orang Australia asli omongan bahasa Inggrisnya amat susah untuk ditangkap.  Hingga kini masih merupakan persoalan bagi saya. Dialek omongan bahasa Inggris antara orang Australia, Inggris, Amerika, Kanada beda-beda meski sama-sama bahasa Inggrisnya.
Belum lagi kalau mereka ngomong dengan ungkapan-ungkapan atau bahasa slank Inggris keseharian, bisa benar-benar terasa bisu dan tuli saya.  Tidak semua orang Australia bicara dengan perbendaharan kata baku yang ada dalam kamus.  Sebagaimana kita dalam berbahasa Indonesia, banyak kata-kata baru yang lahir dan kita pakai tanpa canggung.  Demikian juga dalam keseharian masyarakat Australia. Banyak kata-kata yang bisa dikategorikan bahasa gaul atau slank. Kata-kata yang bisa kita pahami jika tinggal cukup lama di Australia.
Percakapan
Kelemahan kedua adalah dalam percakapan.  Karena jarang menerapkannya dalam keseharian saat berada di tanah air, maka ketika mau ngomong dalam bahasa Inggris sering tersendat-sendat. Menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu kita memang susah. Kita harus bekerja dua kali. Berpikir aturan gramatikalnya, mencari terjemahannya dalam bahasa Inggris, baru bisa ngomong.
Ternyata latihan percakapan amat penting agar bisa secara otomatis kata-kata Inggris itu keluar dari mulut kita tanpa berpikir lagi tentang tatabahasa dan terjemahannya.  Inilah kelemahan saya. Selalu berpikir dua tingkat. Dan saya kira kelemahan ini wajar bagi orang yang baru belajar bahasa Inggris.
Sikap masyarakat Australia tidaklah setoleran dibanding masyarakat kita jika mendapati orang tidak mengerti bahasa kita. Orang Australia akan memperlakukan kita seperti orang bodoh jika kita tak tahu bahasa Inggris. Mereka gampang sekali jengkel jika orang tak mengerti apa yang diomongkan.  Apalagi kalau harus mengulang-ulang lagi omongannya.  Mereka sepertinya tidak mau mengerti bahwa kita baru belajar dalam bahasa Inggris.  Kadang sikap mereka bisa amat menyakitkan.
Karena masyarakat Australia terdiri dari berbagai bangsa, maka bahasa Inggris yang diucapkan oleh orang Vietnam, Thailand, Cina, Afrika, Arab, Libanon dan lain-lain bangsa, bisa amat beda. Menangkap omongan bahasa Inggrisnya orang Vietnam juga perlu kerja ekstra.  Meski para imigran tersebut telah tahunan di Australia dan lancar bahasa Inggrisnya, tapi dialek bahasa asli mereka masih kental terasa.  Demikian juga bahasa Inggris saya yang terdengar kayak ngomong bahasa Jawa diinggriskan. Artinya dalam melakukan percakapan bahasa Inggris, dialek bahasa Jawa saya masih kental. Dan ini susah sekali dirubah. Lidah sudah terlanjur tercetak.
Perlakuan para imigran yang lancar bahasa Inggris tapi dengan dialek bahasa aslinya juga tidak begitu toleran terhadap orang yang tidak bisa bahasa Inggris dengan baik.  Bahkan mereka bisa amat kasar. Seolah bahasa mereka sendiri menurutnya sudah kayak orang Aussie. Padahal tidaklah demikian. Memahami bahasa Inggrisnya bisa lebih susah daripada bahasa Inggrisnya orang Aussie asli.
Kesadaran tentang dialek bahasa Inggris saya yang kental jawa dan susah dipahami oleh masyarakat Australia memaksa saya untuk bicara pelan.  Terutama jika melakukan percakapan lewat telpon. Bahasa Jawa dalam pengucapannya sering tersambung-sambung. Dan sepertinya kebiasaan ini tidak bisa begitu saja hilang saat ngomong bahasa Inggris. Ngomong pelan dan jelas kata demi kata membantu lawan bicara untuk lebih bisa memahami bahasa Inggris yang saya ucapkan.
Hambatan kita untuk praktek percakapan bahasa Inggris dalam sehari-hari saat di tanah air adalah langkanya ketersediaan orang yang bisa diajak latihan bersama. Satu-satunya jalan adalah rajin mencari turis asing yang datang ke Indonesia untk media latihan. Untuk ini, Bali dan Yogya adalah tempatnya.
Juga masalah sentimen sosial yang ada di masyarakat kita.  Jika kita memakai bahasa Inggris dianggap sok dan kebarat-baratan.  Kita kadang dipermalukan kalau ngomong pakai bahasa Inggris. Kemauan praktek untuk bicara bahasa Inggris sering mengalami hambatan.  Padahal praktek ini jauh lebih penting daripada belajar teori tatabahasanya. Asumsi ini saya dapatkan dengan mengamati anak kecil dalam belajar bahasa.  Mereka jauh lebih lancar dalam menguasai bahasa asing karena mereka sering ngomong dan tidak takut salah. Bahasa asing yang mereka dengar langsung diadopsi dan diterapkan dalam percakapan.
Keputusan Kursus
Kesulitan-kesulitan dalam berbahasa Inggris yang saya alami tersebut akhirnya mendorong saya untuk kursus lagi bahasa Inggris di Australia. Ada program pelajaran bahasa Inggris gratis disediakan oleh pemerintah. Berbagai kursus gratis disediakan pemerintah bagi para imigran agar bisa segera menyesuaikan dengan negara barunya. Tinggal pilih yang sesuai bidang atau tujuannya.
Tujuan saya ikut kursus bahasa Inggris cuma satu, yakni mempertajam pendengaran. Belajar mendengarkan bahasa Inggrisnya orang Australia dalam keseharian. Karena saat kursus bisa dijumpai peserta kursus dari berbagai negara sehingga makin cepat bisa belajar.  Bahkan yang sudah tinggal tahunan di Australia masih ikut kursus. Saat kursus inilah, pemahaman bahasa Inggris saya mengalami perkembangan. Karena setiap saat bisa latihan bicara dan mendengar bahasa Inggris dari guru dan sesama peserta kursus.  Hal ini membuat saya lebih santai dengan bahasa Inggris saya.  Dengan kata lain menambah rasa percaya diri saya dalam ngomong dan mendengarkan.
Saya banyak dengar pengalaman-pengalaman dari para imigran peserta kursus tentang kehidupan barunya di Australia. Kesulitan-kesulitan mereka dengan bahasa Inggrisnya di tempat kerja meski lebih setahun telah tinggal di Australia. Saya dapati peserta kursus yang bahasa Inggrisnya secara gramatikal saya anggap masih pating plethot tapi bisa dapat kerjaan. Tapi menurutnya, karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang minim tersebut ia sering dapat komplain dan masalah di tempat kerja.
Salah peserta kursus adalah seorang imigran dari negara Timur Tengah bekerja di Kentucky Fried Chicken. Ia bercerita bahwa banyak customer yang komplain ke supervisornya karena tidak mendapatkan makanan sesuai pesanannya.  Hal itu terjadi berhubung bahasa Inggrisnya yang masih belepotan.  Satu-satunya jalan untuk mengurangi komplain adalah dengan kursus bahasa Inggris, begitu alasannya ketika saya tanya kenapa sudah dapat kerjaan kok masih kursus. Nampaknya ia juga kesulitan dalam masalah listening.
Untuk sementara ini, untuk menghindari komplain dari customer, setiap order makanan dari customer, secara diam-diam tanpa sepengetahuan supervisornya ia kasih ekstra. Kalau dia tidak menangkap apa yang dipesan, langsung saja ia tambahi ekstra dalam pesanan itu. Semakin ia tidak paham, semakin banyak ia kasih ekstra.  Ekstra ayam, ekstra burger, ekstra chips, ekstra minuman dan sebagainya.  Dan sepertinya strateginya itu berjalan baik.  Customer mulai jarang komplain.*** (HBS)

sumber; http://bahasa.kompasiana.com/2013/08/30/bisu-dan-tuli-saat-berada-di-negara-berbahasa-inggris-588210.html

Tidak ada komentar :

Posting Komentar