Englishformuslim: Bahasa Inggris Kebarat-baratan..?? Hellooww..!!
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Jumat, 05 Desember 2014

Bahasa Inggris Kebarat-baratan..?? Hellooww..!!

Posted by : Ave Ry

Tulisan ini tidak bersifat ilmiah sama sekali, hanya curahan hati saja, melepas emosi terpendam... Dalam sebuah diskusi, ada seorang teman yang menyatakan protes bahwa, " Kenapa sih orang-orang sekarang lebih suka menggunakan bahwa Inggris, Kebarat-baratan. Al Qur'an itu diturunkan menggunakan bahasa Arab, jadi sebagai Muslim kita seharusnya lebih mengutamakan penggunaan bahasa Arab ". By the way, kalimat itu saya sitir secara bebas.

Pernah juga ada beberapa teman yang mengatakan bahwa bahasa Inggris itu adalah bahasanya orang kafir, bahasa orang munafik. Wah, berat juga nih!

Well, izinkan saya berbicara sendiri dulu ya, mengemukakan pendapat saya berdasarkan logika.

Sebagai seorang Muslim, tentunya saya sadar betul bahwa Al Qur'an diturunkan kepada RAsulullah Muhammad Saw dengan menggunakan bahasa kaumnya, bahasa Arab. Tentu mengandung hikmah yang luar biasa besar dan banyaknya.

Bahasa Inggris, Indonesia dan bahasa Asing lainnya dalam Islam dikatagorikan sebagai Bahasa Ajam, yaitu bahasa selain bahasa Arab.

Imagine, seorang Amerika, lahir dan besar di Negara tersebut. Lantas dia bersentuhan dan kemudian memeluk Islam, menjadi muallaf. Bahasa apa yang sahabat kira dia gunakan? Dia bertanya, menjawab, membaca, menulis dan kegiatan lainnya menggunakan 'bahasa kafir' sepanjang waktu! How poor he is, isn't he?

Imagine, seorang Indonesia, lahir dan besar di Negara ini. Lantas dia bersentuhan dan kemudian memeluk Islam, menjadi muallaf atau memang dari lahir dia sudah bersentuhan dengan Islam, azas Islam keturunan. Bahasa apa yang sahabat kira dia gunakan? Dia bertanya, menjawab, membaca, menulis dan kegiatan lainnya menggunakan 'bahasa pagan' sepanjang waktu! Kasihan dia, iya kan?

Imagine, seorang Arab, lahir dan besar di Negara tersebut. Lantas dia bersentuhan atau keturunan seorang Nasrani atau yahudi, menjadilah dia seorang kafir. Bahasa apa yang sahabat kira dia gunakan? Dia bertanya, menjawab, membaca, menulis dan kegiatan lainnya menggunakan 'bahasa Al Qur'an' sepanjang waktu! Allahu Yahdik...
Siapa yang tidak setuju bahwa Islam adalah Dien yang Rahmatan liel ‘alamin? Siapa juga yang tidak setuju bahwa Islam bukan hanya milik bangsa Arab tetapi juga Ajam?
Ya Ikhwah… Allah adalah Ar Rahman lagi Ar Rahim, dijadikannya Islam pada umat manusia seluruhnya, baik dia seorang Habasyah (Afrika), Rum (Eropa) atau bangsa Ajam lainnya. Tidak di perdulikan-Nya bahasa, warna kulit dan rupa selain Taqwa mereka. 
Apakah si Amerika harus menangis darah karena setiap saat dia menggunakan bahasa kafir, dan si Indonesia merasa sakit hati karena dulu ‘nenek moyangnya’ menyembah dewata? Kemudian, betapa tak tahu diri si Arab yang beragama kafir!
Well, it’s enough with my thought… 
Perhatikan ayat Al Qur’an berikut ini.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan BAHASAmu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”  Ar-Ruum : 22
Jadi, siapa yang menciptakan manusia dengan keadaan berlainan bahasa, Si Barat-kah?  Ingat, selalu ada hikmah dari setiap yang Allah SWT tentukan bagi manusia. Hanya manusia itulah yang harus mencerna, menganalisa.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu SALING KENAL-MENGENAL. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  Al-Hujurat : 13
Salah satu tujuan yang paling krusial diantara perbedaan yang Allah SWT ciptakan adalah untuk saling kenal-mengenal seperti dalam ayat diatas. Mengamati bagaimana tiap kata, tiap benda, tiap nama disebut dengan lafazh berbeda. Lantas sebagai Muslim kita kembali membandingkannya dengan sebaik-baik bahasa, bahasa Arab yang Al Qur’an turun dalam lafazh yang kaya akan makna.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”   Yusuf : 2
Bagi yang mendalami bahasa Arab pastinya mereka akan terkagum-kagum dengan keelokan dan keindahan tata bahasa, luas dan beragam makna. Dan kita pun akan tertegun, takjub. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Kitab Paling Mulia dengan sebaik-baik bahasa.!
 “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” Ibrahim : 4
Al-Imam Qatadah (seorang ulama tabiin) berkata:
 “Firman Allah: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya” maksudnya adalah dengan bahasa kaumnya apapun bahasanya. Dan firman Allah: “supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” maksudnya adalah agar ia (penjelasan tersebut) dijadikan sebagai hujjah.” (HR. Ibnu Jarir : 16/517).
Kemudian perhatikan hadist-hadist berikut ini,
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata:
 “Rasulullah  menyuruhku untuk mempelajari -untuk beliau- kalimat-kalimat (bahasa)  dari buku (suratnya) orang Yahudi, beliau berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya maka jika beliau menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk beliau. Dan ketika mereka menulis surat untuk beliau maka aku yang membacakannya kepada beliau.” (HR. At-Tirmidzi: 2639)
Dalam riwayat lain:
 “Rasulullah memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” (HR. At-Tirmidzi: 2639).
Dari Ummu Khalid bin Khalid  (ketika ia masih kecil), ia berkata:
 “Aku mendatangi Rasulullah bersama ayahku. Aku memakai gamis kuning. Maka Rasulullah  berkata: “Sanah, sanah.” Abdullah (seorang perawi) berkata: “Ia (sanah) dalam bahasa Ethiopia berarti “bagus.” Maka aku pergi bermain dengan tanda kenabian.” (HR. Al-Bukhari: 2842, 5534)

Dari Abu Hurairah, ia berkata:
 “Bahwa Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari kurma shadaqah dan meletakkannya pada mulutnya. Maka Rasulullah  berkata dalam bahasa PersiaKikh, kikh. Apakah kamu (wahai Hasan) tidak mengetahui bahwa kami (Ahlul bait) tidak boleh memakan shadaqah?” (HR. Al-Bukhari : 2843, Muslim : 1778).
Al-Imam An-Nawawi berkata:
 “Al-Qadli Iyadl berkata: “Dibaca kakh, kakh atau kikh, kikh (dengan fathah atau kasrah kaf dengan sukun kha’) dan boleh dibaca kakhin, kakhin atau kikhin, kikhin (dengan kasrah kha’ dengan tanwin) merupakan kalimat untuk melarang anak-anak dari sesuatu yang dianggap menjijikkan. Maka dikatakan: “Kakh” maksudnya adalah tinggalkan dan buanglah ia! Ad-Dawudi berkata: “Ia (lafazh ‘kakh’) adalah bahasa Ajam yang di-arab-kan dengan makna sesuatu yang jelek.” (Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim: 7/175).
Nah, sudahkan sahabat perhatikan? Begitu banyak sebenarnya hadist yang berkaitan tentang ini namun hanya saya kutipkan sebagiannya saja. Tidak ada penamaan suatu bahasa selain bahasa Arab sebagai bahasa kafir, bahasa munafik, apalagi bahasa yang kebarat-baratan…
Yang menjadi masalah adalah ketika sebagai umat Muslim lebih mengutamakan bahasa Ajam dalam mempelajarinya dengan meninggalkan bahasa Arab, atau menganggap bahasa Ajam lebih baik. Bukan mencela orang yang menggunakannya! Bahkan menggunakan dan mempelajari bahasa Ajam sebagai wasilah dakwah menjadi wajib hukumnya.
Jika ada seseorang yang mengatakan bahasa Inggris kebarat-baratan jadi terdengar konyol di telinga saya. Sama saja dia berkata jika ada seorang Eropa yang berbahasa Indonesia lalu dia menyebutkan ke-asia-asia-an atau ketimur-timuran. Itu sama artinya dengan pengkotak-kotakkan antara timur, barat, selatan, utara. Padahal, kemanapun arah yang kau tuju disitulah Wajah Tuhanmu… 
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, “ 
Al Maa'idah : 48
 
sumber;  http://al-ihtisyam.blogspot.com/2013/02/bahasa-inggris-kebarat-baratan-hellooww.html

Tidak ada komentar :

Posting Komentar