Englishformuslim: Belajar Bahasa Inggris dengan Fondasi Agama Islam
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Kamis, 15 Agustus 2013

Belajar Bahasa Inggris dengan Fondasi Agama Islam

Belajar Bahasa Inggris dengan Fondasi Agama Islam


Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk menuju kedewasaan.
Pendidikan dapat diperoleh secara formal dan informal,
hal itu disesuaikan dengan kemampuan dan minat seseorang. 
Kebanyakan sekolah formal di Indonesia senantiasa 
mengedepankan suatu capaian yang berkaitan dengan
 kemampuan intelektual.
 Efeknya, mengabaikan aspek perubahan perilaku
 yang justru jauh lebih penting dalam proses pembelajaran. 
Terlebih dari itu, banyak perspektif dari orang tua yang
saat ini lebih cenderung menekankan untuk mendapatkan 
ilmu umum daripada ilmu agama. Maksud penyataaan saya 
seperti ini: orang tua saat ini cenderung memasukkan
 putra-putrinya ke sebuah lembaga untuk belajar matematika
 atau bahasa Inggris daripada harus belajar di TPQ. 
Memang tidak semua orang tua mempunyai perspektif seperti ini,
 tapi sebagian besar tetap teguh dengan perspektif yang
 kurang tepat tersebut hal.
Di satu sisi ilmu umum seperti bahasa Inggris penting, 
tapi di sisi lain ilmu agama juga penting. Kemudian ada 
pertanyaan seperti ini; apakah ada manfaat belajar bahasa
 Inggris yang notebene budayanya berbeda dengan budaya kita?
Menjawab pertanyaan di atas sesungguhnya sangat mudah.
 Semua orang tahu bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa
 Internasional yang banyak digunakan oleh orang di dunia. 
Bahasa tersebut cenderung mengarah ke negara Inggris, Amerika, 
ataupun Australia. Tentu saja kebudayaan mereka tak sama dengan
 bangsa kita. Tapi kita pelu mempelajarinya untuk menghadapi 
persaingan global saat ini.
Untuk menghadapi persaingan global, banyak universitas yang 
menawarkan jurusan bahasa Inggris di Indonesia. 
Tapi hanya sedikit dari mereka yang menerapkan 
fondasi agama Islam dalam proses pembelajaran, 
salah satunya adalah Fakultas Bahasa UNISSULA. 
Fakultas baru yang senantiasa melakukan internalisasi 
nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran.
Melakukan proses pembelajaran di universitas Islam 
memberikan dampak positif terhadap dosen maupun mahasiswa 
di Fakultas Bahasa. Penerapan BUDAI (Budaya Akademik Islam) 
dalam kehidupan kampus merupakan bukti nyata kepedulian
 pihak kampus terhadap pendidikan agama di lingkungan universitas. 
Sudah barang tentu sulit untuk menemukan sebuah universitas yang 
menerapkan kebijakan seperti demikian.
BUDAI memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar ilmu 
umum sekaligus ilmu agama. Ini merupakan kesempatan yang luar
 biasa karena kombinasi antara ilmu umum dan ilmu agama akan 
menghasilkan seseorang yang tangguh dalam menghadapi hidup.
 Percuma saja bila seseorang hanya menguasai satu ilmu (umum/agama), 
mereka akan tertatih dan akan menemukan banyak kesulitan hidup.
Mari kita tengok bagaimana penerapan BUDAI di Fakultas Bahasa UNISSULA.
 Penekanan untuk solat berjamaah menjadi poin penting di sini. Ketika 
waktu solat dzuhur dan ashar tiba, kegiatan belajar mengajar segera 
di akhiri dan baik dosen ataupun mahasiswa menuju ke masjid untuk
 melakukan solat berjamaah. Tak jarang juga dosen seperti Mr. Hartono 
dan Mr. Nuridin mengingatkan untuk menjalankan solat berjamaah ketika
 kita masih “berkongko-kongko” di sekitar fakultas.
Selain solat berjamaah, internalisasi nilai-nilai 
Islam juga dapat ditemukan dalam mata kuliah yang 
ditawarkan oleh pihak fakultas. Islam Education 1,
 Islam Education 2, Islam and Education, ketiga mata 
kuliah tersebut menjadi kewajiban untuk diambil setiap 
mahasiswa Fakultas Bahasa. Sudah barang tentu mata kuliah 
tersebut banyak berkaitan dengan Agama Islam. Tidak hanya 
belajar bagaimana agama Islam dan penerapannya dalam kehidupan 
sehari-hari, tapi juga kita dapat mempelajari sejarah penyebaran
 agama Islam di dunia dalam mata kuliah Islam and Education. 
 Subhanallah.
Fokus selanjutnya adalah cara berpakaian. Adab berpakain juga
 diperhatikan dalam pelaksanaan BUDAI. Tak seperti mahasiswa/
mahasiswi di universitas lain yang sering identik dengan jeans, 
rok pendek, celana pensil, atau baju ketat, semua mahasiswi di 
UNISSULA sudah berkerudung dan sebagian besar dari mereka sudah 
memakai rok panjang meskipun sesungguhnya tidak diperbolehkan
 memakai selain rok panjang.
Solat berjamaah, mata kuliah berkaitan dengan Islam, 
cara berpakaian Islami belum cukup. Adanya larangan
 merokok di lingkungan kampus membuat kampus ini berbeda
 dengan kampus lain. Merokok yang menurut agama hukumnya
 makruh menjadi barang langka di UNISSULA. Mungkin hanya 
tamu atau jamaah solat Jumat yang mungkin merokok, itu toh 
mereka tidak tahu tentang larangan tersebut.
Pro kontra tentang penerapan BUDAI di kampus beberapa tahun 
lalu sudah perlahan-lahan terhapus seiring dengan berjalannya
 waktu. Pada akhirnya juga mahasiswa yang mendapatkan keuntungan
 dengan penerapan BUDAI. Internalisasi nilai-nilai Islam dapat
 semakin ditekankan. Sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh
 ilmu umum, tapi juga ilmu agama yang berguna bagi hidup mereka.
Berkaitan dengan ilmu yang dipelajari di Fakultas Bahasa, 
dapat dikatakan ilmunya jauh dari ilmu agama. Itu terjadi
 karena perbedaan kebudayaan. Kita menganut budaya ketimuran, 
sedangkan native speaker bahasa Inggris menganut budaya barat. 
Perbedaan itu menyebabkan mahasiswa harus melakukan filter terhadap 
budaya yang biasa dilakukan oleh native speaker.
Memang tidak mudah belajar bahasa yang tidak kita gunakan dalam
 komunikasi sehari-hari. Salah satunya bahasa Inggris, bahasa 
Inggris menjadi foreign language di Indonesia. Maka konsekwensinya 
adalah mahasiswa harus memanfaatkan kampus sebagai tempat strategis
 untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat melalui speaking, writing,
 atau ketrampilan bahasa yang lain. Tapi satu hal yang harus 
diperhatikan dalam belajar bahasa Inggris adalah harus menggunakan 
fondasi agama dalam melakukan filter terhadap budaya yang dipelajari.
Sejauh yang saya rasakan sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa, 
saya dapat menyeimbangkan antara ilmu umum khususnya segala
 sesuatu tentang bahasa Inggris dan ilmu agama. Hal ini
 membuat semangat dalam belajar menjadi membumbung tinggi 
meskipun dalam keadaan sakit. Selain itu, suasana kampus 
yang kondusif juga membuat diskusi-diskusi yang tercipta 
antar mahasiswa menjadi lebih berwarna. Dari diskusi-diskusi
 seperti itu biasanya ilmu akan banyak didapat selain belajar 
di kelas.
Hal yang paling mengagumkan belajar di universitas ini khususnya
 Fakultas Bahasa ini adalah adanya internalisasi nilai-nilai 
Islam seperti dalam mata kuliah, cara berpakaian, kebiasaan 
solat berjamaah seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Tidak 
ada penyesalan karena hanya menuntut ilmu di PTS, rasa bangga
 justru kerap datang seiring bertambahnya ilmu yang didapat. 
Tapi rasa bangga itu tidak kemudian membuat berhenti untuk 
 tetap menggali ilmu dan informasi yang.
Sesungguhnya di mana pun kita belajar kalau sudah didasari
 niat yang lurus, Insya Allah semuanya akan diberi kemudahan 
oleh Allah. Pernyataan itu semakin menguatkan hati untuk tetap 
belajar di fakultas ini. Dengan subjek yang kita pelajari
 sekarang (bahasa Inggris), kita sudah mempunyai sedikit
 ilmu yang dapat kita gunakan untuk menghadapi persaingan 
global. Tapi tetap dengan sebuah catatan: tetap menggunakan 
 fondasi agama di setiap langkah. Karena fondasi agama dapat
 dijadikan alat kontrol agar tidak terjebak di lubang yang
 justru akan menjauhkan kita dari ridho Allah.
 sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/24/belajar-bahasa-inggris-
dengan-fondasi-agama-islam-349117.html

Tidak ada komentar :

Posting Komentar