Englishformuslim: Agustus 2013
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Kamis, 15 Agustus 2013

Belajar Bahasa Inggris dengan Fondasi Agama Islam

Belajar Bahasa Inggris dengan Fondasi Agama Islam


Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk menuju kedewasaan.
Pendidikan dapat diperoleh secara formal dan informal,
hal itu disesuaikan dengan kemampuan dan minat seseorang. 
Kebanyakan sekolah formal di Indonesia senantiasa 
mengedepankan suatu capaian yang berkaitan dengan
 kemampuan intelektual.
 Efeknya, mengabaikan aspek perubahan perilaku
 yang justru jauh lebih penting dalam proses pembelajaran. 
Terlebih dari itu, banyak perspektif dari orang tua yang
saat ini lebih cenderung menekankan untuk mendapatkan 
ilmu umum daripada ilmu agama. Maksud penyataaan saya 
seperti ini: orang tua saat ini cenderung memasukkan
 putra-putrinya ke sebuah lembaga untuk belajar matematika
 atau bahasa Inggris daripada harus belajar di TPQ. 
Memang tidak semua orang tua mempunyai perspektif seperti ini,
 tapi sebagian besar tetap teguh dengan perspektif yang
 kurang tepat tersebut hal.
Di satu sisi ilmu umum seperti bahasa Inggris penting, 
tapi di sisi lain ilmu agama juga penting. Kemudian ada 
pertanyaan seperti ini; apakah ada manfaat belajar bahasa
 Inggris yang notebene budayanya berbeda dengan budaya kita?
Menjawab pertanyaan di atas sesungguhnya sangat mudah.
 Semua orang tahu bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa
 Internasional yang banyak digunakan oleh orang di dunia. 
Bahasa tersebut cenderung mengarah ke negara Inggris, Amerika, 
ataupun Australia. Tentu saja kebudayaan mereka tak sama dengan
 bangsa kita. Tapi kita pelu mempelajarinya untuk menghadapi 
persaingan global saat ini.
Untuk menghadapi persaingan global, banyak universitas yang 
menawarkan jurusan bahasa Inggris di Indonesia. 
Tapi hanya sedikit dari mereka yang menerapkan 
fondasi agama Islam dalam proses pembelajaran, 
salah satunya adalah Fakultas Bahasa UNISSULA. 
Fakultas baru yang senantiasa melakukan internalisasi 
nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran.
Melakukan proses pembelajaran di universitas Islam 
memberikan dampak positif terhadap dosen maupun mahasiswa 
di Fakultas Bahasa. Penerapan BUDAI (Budaya Akademik Islam) 
dalam kehidupan kampus merupakan bukti nyata kepedulian
 pihak kampus terhadap pendidikan agama di lingkungan universitas. 
Sudah barang tentu sulit untuk menemukan sebuah universitas yang 
menerapkan kebijakan seperti demikian.
BUDAI memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar ilmu 
umum sekaligus ilmu agama. Ini merupakan kesempatan yang luar
 biasa karena kombinasi antara ilmu umum dan ilmu agama akan 
menghasilkan seseorang yang tangguh dalam menghadapi hidup.
 Percuma saja bila seseorang hanya menguasai satu ilmu (umum/agama), 
mereka akan tertatih dan akan menemukan banyak kesulitan hidup.
Mari kita tengok bagaimana penerapan BUDAI di Fakultas Bahasa UNISSULA.
 Penekanan untuk solat berjamaah menjadi poin penting di sini. Ketika 
waktu solat dzuhur dan ashar tiba, kegiatan belajar mengajar segera 
di akhiri dan baik dosen ataupun mahasiswa menuju ke masjid untuk
 melakukan solat berjamaah. Tak jarang juga dosen seperti Mr. Hartono 
dan Mr. Nuridin mengingatkan untuk menjalankan solat berjamaah ketika
 kita masih “berkongko-kongko” di sekitar fakultas.
Selain solat berjamaah, internalisasi nilai-nilai 
Islam juga dapat ditemukan dalam mata kuliah yang 
ditawarkan oleh pihak fakultas. Islam Education 1,
 Islam Education 2, Islam and Education, ketiga mata 
kuliah tersebut menjadi kewajiban untuk diambil setiap 
mahasiswa Fakultas Bahasa. Sudah barang tentu mata kuliah 
tersebut banyak berkaitan dengan Agama Islam. Tidak hanya 
belajar bagaimana agama Islam dan penerapannya dalam kehidupan 
sehari-hari, tapi juga kita dapat mempelajari sejarah penyebaran
 agama Islam di dunia dalam mata kuliah Islam and Education. 
 Subhanallah.
Fokus selanjutnya adalah cara berpakaian. Adab berpakain juga
 diperhatikan dalam pelaksanaan BUDAI. Tak seperti mahasiswa/
mahasiswi di universitas lain yang sering identik dengan jeans, 
rok pendek, celana pensil, atau baju ketat, semua mahasiswi di 
UNISSULA sudah berkerudung dan sebagian besar dari mereka sudah 
memakai rok panjang meskipun sesungguhnya tidak diperbolehkan
 memakai selain rok panjang.
Solat berjamaah, mata kuliah berkaitan dengan Islam, 
cara berpakaian Islami belum cukup. Adanya larangan
 merokok di lingkungan kampus membuat kampus ini berbeda
 dengan kampus lain. Merokok yang menurut agama hukumnya
 makruh menjadi barang langka di UNISSULA. Mungkin hanya 
tamu atau jamaah solat Jumat yang mungkin merokok, itu toh 
mereka tidak tahu tentang larangan tersebut.
Pro kontra tentang penerapan BUDAI di kampus beberapa tahun 
lalu sudah perlahan-lahan terhapus seiring dengan berjalannya
 waktu. Pada akhirnya juga mahasiswa yang mendapatkan keuntungan
 dengan penerapan BUDAI. Internalisasi nilai-nilai Islam dapat
 semakin ditekankan. Sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh
 ilmu umum, tapi juga ilmu agama yang berguna bagi hidup mereka.
Berkaitan dengan ilmu yang dipelajari di Fakultas Bahasa, 
dapat dikatakan ilmunya jauh dari ilmu agama. Itu terjadi
 karena perbedaan kebudayaan. Kita menganut budaya ketimuran, 
sedangkan native speaker bahasa Inggris menganut budaya barat. 
Perbedaan itu menyebabkan mahasiswa harus melakukan filter terhadap 
budaya yang biasa dilakukan oleh native speaker.
Memang tidak mudah belajar bahasa yang tidak kita gunakan dalam
 komunikasi sehari-hari. Salah satunya bahasa Inggris, bahasa 
Inggris menjadi foreign language di Indonesia. Maka konsekwensinya 
adalah mahasiswa harus memanfaatkan kampus sebagai tempat strategis
 untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat melalui speaking, writing,
 atau ketrampilan bahasa yang lain. Tapi satu hal yang harus 
diperhatikan dalam belajar bahasa Inggris adalah harus menggunakan 
fondasi agama dalam melakukan filter terhadap budaya yang dipelajari.
Sejauh yang saya rasakan sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa, 
saya dapat menyeimbangkan antara ilmu umum khususnya segala
 sesuatu tentang bahasa Inggris dan ilmu agama. Hal ini
 membuat semangat dalam belajar menjadi membumbung tinggi 
meskipun dalam keadaan sakit. Selain itu, suasana kampus 
yang kondusif juga membuat diskusi-diskusi yang tercipta 
antar mahasiswa menjadi lebih berwarna. Dari diskusi-diskusi
 seperti itu biasanya ilmu akan banyak didapat selain belajar 
di kelas.
Hal yang paling mengagumkan belajar di universitas ini khususnya
 Fakultas Bahasa ini adalah adanya internalisasi nilai-nilai 
Islam seperti dalam mata kuliah, cara berpakaian, kebiasaan 
solat berjamaah seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Tidak 
ada penyesalan karena hanya menuntut ilmu di PTS, rasa bangga
 justru kerap datang seiring bertambahnya ilmu yang didapat. 
Tapi rasa bangga itu tidak kemudian membuat berhenti untuk 
 tetap menggali ilmu dan informasi yang.
Sesungguhnya di mana pun kita belajar kalau sudah didasari
 niat yang lurus, Insya Allah semuanya akan diberi kemudahan 
oleh Allah. Pernyataan itu semakin menguatkan hati untuk tetap 
belajar di fakultas ini. Dengan subjek yang kita pelajari
 sekarang (bahasa Inggris), kita sudah mempunyai sedikit
 ilmu yang dapat kita gunakan untuk menghadapi persaingan 
global. Tapi tetap dengan sebuah catatan: tetap menggunakan 
 fondasi agama di setiap langkah. Karena fondasi agama dapat
 dijadikan alat kontrol agar tidak terjebak di lubang yang
 justru akan menjauhkan kita dari ridho Allah.
 sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/24/belajar-bahasa-inggris-
dengan-fondasi-agama-islam-349117.html

Aib, Jika Umat Islam Bisa Berbahasa Inggris Tapi Tidak Berbahasa Arab

Aib, Jika Umat Islam Bisa Berbahasa Inggris Tapi Tidak Berbahasa Arab

March 4, 2013 10:35 am | Sekolah & Kampus
eramuslim.com
Adalah merupakan aib, jika umat Islam bisa menguasai bahasa lain namun bahasa sendiri, bahasa Arab mereka tidak paham. Demikian  disampaikan dosen bahasa dan sastra Arab Universitas al-Azhar Mesir Syaikh Muhyiddin Sa’id Abdullah Ahmad dalam sebuah Seminar Akbar Bahasa Arab di Yogyakarta.
“Aib bagi seorang Muslim yang sangat paham dengan bahasa selain bahasa Arab, namun mereka enggan untuk memahami dan mendalami bahasa Arab,” Sabtu  (02/03/2013 ) seperti dikutip Hidayatullah.
Sebagaimana diketahui, kebanyakan umat Islam selain di dunia Arab memang lebih menguasai Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Arab.
Seminar bertempat di gedung Pertemuan Hegar Yogyakarta membahas tentang “Revolusi Belajar Bahasa Arab Tanpa Harkat dengan Super Mudah, Cepat, Efektif dan Sangat Menyenangkan”.
Acara tersebut di hadiri oleh sekitar 80 peserta utusan dari berbagai macam lembaga pendidikan di Yogyakarta, mulai dari tingkat SD-MI, SMP-MTS,SMA-MA, dan bahkan perguruan tinggi.
Dalam paparannya Syaikh Muhyiddin Sa’id Abdullah Ahmad menyampaikan tentang urgensi bahasa arab bagi umat Islam.
Syaikh Muhyiddin Sa’id Abdullah Ahmad mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an. Bahasa Arab juga bahasa hadits dan bahasa ibadah sehingga setiap pribadi Muslim wajib memahaminya karena bahasa Arab adalah kunci dalam beragama dan merupakan pintu masuk dalam memahami al-Qur’an dan al Hadits.”

sumber: http://news.fimadani.com/read/2013/03/04/aib-jika-umat-islam-bisa-berbahasa-inggris-tapi-tidak-berbahasa-arab/

Istilah-istilah Islam dalam Bahasa Inggris

Tidak Ada Larangan untuk Belajar Bahasa Inggris Menjelang Lebaran

HL | 29 July 2013 | 18:26 Dibaca: 677   Komentar: 28   18
1375105891617354353
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Lagi-lagi Bahasa Inggris. Mungkin itulah yang akan sidang pembaca katakan. Tapi, karena sudah menjadi hobi, maka kali ini saya berkeinginan untuk menuliskan kembali tentang English. Keinginan bulat saya adalah menjadikan English sebagai sesuatu yang menyenangkan, dan bukan sebaliknya, menakutkan serta membosankan. Karena ini Bulan Ramadhan, dan tidak lama lagi saudara-saudara yang beragama Islam akan merayakan Idul Fitri, maka saya bermaksud menuliskan tentang ‘English – on – Ramadhan – and – Ied Mubarakh’. Bahasa Inggris di seputaran Ramadhan, Idul Fitri, dan Islam itu sendiri. Ngomong-ngomong, tidak ada larangan untuk belajar Bahasa Inggris menjelang Lebaran kan? LoL.
Tahun lalu, ketika Presiden Obama memberikan ucapan selamat Idul Fitri, ia mengatakan ‘Ied Mubarakh’ atau kawan-kawan saya mengucapkannya sebagai ‘Happy Ied Mubarakh’. Tapi apa sih arti sesungguhnya dari ucapan tersebut? Ied Mubarakh adalah ucapan untuk mengatakan ‘selamat lebaran’ bagi umat Muslim yang merayakan Idul Fitri atau Eid al-Fitr atau juga Id al-Fitr yang juga dikenal sebagai Eid ul-Fitr. Di beberapa Negara, perayaan tersebut dilakukan selama tiga hari, misalnya di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Dalam Bahasa Inggris, ‘Ied Mubarakh’ juga dikenal sebagai ‘Blessed Festival’. Nah, biasanya orang yang memberikan ucapan selamat tersebut akan mendapatkan balasan ‘May Allah bless it for you too’ atau ‘ Allah yubarak feek’.
Lantas apa Bahasa Inggrisnya ‘Assalamualaikum’, artinya kurang lebih adalah ini: Peace be upon you. Semoga damai menyertaimu. Sedangkan ‘alhamdulillah’ artinya adalah segala kemuliaan hanyalah bagi Allah, atau all Praise be to Allah. Nah, kalau di Amerika ketika ada orang bersin maka yang di sekitarnya akan mengatakan ‘Bless you’ atau ‘God bless you’, bagi sebagian umat muslim di sana ketika ada yang bersin maka mereka akan mengatakan ‘al-hamdulillah’. Selanjutnya, ketika umat muslim mengangkat tangannya dan meletakkannya di telinga mereka sembari mengatakan ‘Allahu Akbar’, itu artinya Allah is great.
Bulan Puasa dikenal dengan sebutan Fasting Month atau Ramadhan. Tapi apa kira-kira sebutan untuk ‘sahur’? Ternyata banyak yang menyebutnya sabagai ‘a predawn meal’. Untuk waktu berbuka puasa seperti apa? Waktunya adalah as soon as the sunset prayer time comes in (Magrib). Dan tentu saja, harus dilakukan without any delay whatsoever. Di beberapa negara, biasanya berbuka puasa itu dilakukan dengan buah kurma (dates). Katanya, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pada zamannya, berbuka dengan Kurma. Bagaimana kalau di lingkungan yang sangat sulit untuk mendapatkan Kurma? Misalnya di kampung saya di Minahasa sana? Ya tentu akan lain ceritanya, tidak perlu pakai Kurma tapi cukup dengan Nasi Kuning, ikang garang, atau sambel roa, ododoe pe pidis skali eh…
Sekarang, apa maksudnya dengan ablution? Itu adalah ketika kita hendak membasuh diri sebelum berdoa atau sholat, kita mengenalnya dengan sebutan wudu’. Terus, apa artinya ‘zakat’? Itu adalah obligatory charity. Lain lagi untuk sebutan mereka yang ‘naik haji’, di Amerika sebutan untuk itu bukan ‘naik haji’ tapi hajj trip. Perjalan menunaikan ibadah haji. Kegiatan tersebut adalah keharusan bagi setiap muslim untuk melakukannya setidaknya satu kali seumur hidupnya, tentu saja bila ia mampu secara fisik dan keuangan. Naik haji adalah the pilgrimage to Mecca. Is an obligation upon every Moslem and must be performed at least once in a life time IF physically and financially able.
Belum capek kan? Belum bosan kan? Oke, mari kita lanjutkan lagi. Apa artinya ‘Sahadat’? Itu adalah sebuah creed of Islam. Pengakuan bagi mereka yang mengaku diri sebagai umat muslim. Isinya kurang lebih adalah, ‘I bear witness that there is no deity worthy of worship except Allah, and I bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah.’ Seperti itu.
‘Bismillah’ adalah sebutan lain dari in the name of Allah. Ini biasanya diucapkan ketika hendak melakukan suatu hal atau sebuah tindakan. Saya anjurkan untuk mengucapkannya tidak hanya ketika akan melakukan perkara besar saja, yang kecil pun semestinya didahului dengan sebutan ini. Sebab, bukankah Allah berperkara tidak hanya pada hal-hal besar semata? Tapi juga untuk hal-hal yang kita anggap kecil sekalipun. Ada orang ketika mau diinterview oleh boss besar perusahaan tertentu baru mengucapkan bismillah, tapi setiap pagi mau naik motor umpamanya, justru tidak pernah mengucapkannya. Padahal, dia dekat dengan kematian ketika sementara berada di atas motor lebih daripada ketika ia sementara duduk di depan boss besar.
‘Sura’ adalah sebutan untuk pasal-pasal di Alquran - Chapter of the Qu’ran/Koran. Sementara Qibla/kiblat’ adalah arah di mana setiap muslim harus menghadap ketika sholat. Direction in which the Kaaba, in Saudi Arabia located. Kalau di Amerika maka lokasinya adalah menghadap ke North-east.
Pernah lihat nama Nabi Muhammad? Di belakangnya kan ada tulisan SAW, nah apa artinya itu? Sallallahu alaihe wa sallam memiliki arti, (may) the peace and blessings of Allah be upon him. Ini yang terakhir deh, kalau Anda suka menonton acaranya Tukul yaitu Bukan Empat Mata, hampir pasti akan selalu Anda dengarkan si Tukul mengatakan subhanAllah’. Apa artinya itu? Dalam Bahasa Inggris ia dapat diterjemahkan sebagai ‘Glory be to Allah’.
Saya rasa, cukuplah sudah pembahasan kita kali ini. May Allah keep you on the straight path, strengthen you to the fullest and make you as the role models for the rest of humanity.  Amin. —Michael Sendow—

sumber: http://bahasa.kompasiana.com/2013/07/29/tidak-ada-larangan-untuk-belajar-bahasa-inggris-menjelang-lebaran--580745.html

Tulislah Muslim, bukan Moslem

Tulislah Muslim, bukan Moslem

Curriculum vitae (CV) biasanya berisi tentang biodata, mulai dari nama, tempat dan tanggal lahir, status, pendidikan, alamat, hingga agama. Nah, ketita kita menuliskan agama, khususnya bagi yang beragama Islam, sering menuliskan kata Moslem untuk religion, bukan Muslim. Demikian juga ketika ditanya apakah agamamu dalam bahasa Inggris, sering dijawab dengan “I’m Moslem,” kata ini jelas salah. Seharusnya dia menjawabnya dengan I’m Muslim. Lalu dimanakah letak kesalahannya? Mari kita telusuri lebih jauh.
Dulu, orang Barat sering menyebut pengikut Nabi Muhammad SAW (orang Islam/Muslim) dengan sebutan Mohammedans, atau Mahometans. Dalam bahasa Inggris kuno, kata ini bisanya digunakan sebagai kata benda atau kata sifat yang berhubungan dengan Nabi Muhammad, agama Islam, atau praktik ibadah yang dilaksanakan oleh umat Islam.
Kata Mohammedans digunakan pertama kali sekitar tahun 1529 Masehi. Namun, karena dikira-kira tidak pas, lalu pada1663 Masehi diganti dengan Muhammedanus, yang artinya juga pengikut Muhammad.
Sejarahnya, orang Kristen di Eropa atau Barat, hingga abad ke-13, menilai ada pandangan yang salah terhadap keyakinan Muhammad. Mereka mengira, umat Islam itu menyembah Muhammad, bukan Allah sebagai Tuhan. Bahkan, sejumlah literatur Eropa pun banyak yang memahami bahwa umat Islam itu menyembah Muhammad sebagai dewa. Tak hanya di Eropa, hal senada juga berlaku di kekaisaran Roma yang menyebut pengikut Nabi Muhammad SAW atau umat Islam dengan sebutan Mahomet.
Namun, seiring perkembangannya, para ahli bahasa menemukan adanya kejanggalan dengan penggunaan istilah itu. Mereka kemudian menyebut umat Islam dengan panggilan Moslem (Eropa) atau Mosulman di Persia. Kata ini terus berlaku hingga pertengahan abad ke-20. Dan sejumlah umat Islam pun bangga ketika mereka disebut dengan Moslem. Jadilah kata itu digunakan terus menerus, bahkan sebagian hingga saat ini.
Tahukah Anda apakah makna Moslem? Orang Islam. Benar, tapi kata itu sesungguhnya adalah merendahkan diri yang maknanya senada dengan orang Islam yang selama ini mereka kenal, yakni suka berperang, dan menegakkan aturan dengan pedang.
Dalam bahasa Inggris, kata Moslem atau Muslim memiliki arti yang sama. Namun, hal itu berbeda dengan bahasa Arab. Dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Dalam bahasa Arab, Muslim adalah orang yang tunduk dan sepenuhnya patuh kepada Allah. Dan sesuai akar katanya, Islam adalah tunduk, atau patuh. Sebaliknya kata Moslem, dalam bahasa Arab memiliki makna orang yang jahat atau berlaku tidak adil. Seperti orang Inggris menyebut Mozlem dengan huruf zet (z).
The American Heritage Dictionary (1992) mencatat, dibandingkan dengan kata Moslem, sesungguhnya yang paling tepat digunakan untuk orang Islam adalah Muslim. Dan inilah kata yang paling disukai dibandingkan Moslem. Karena itu, now almost everybody uses Muslim.
Menurut Center for Nonproliferation Studies (Pusat Studi Nonproliferasi) juga menyetujui kata Muslim dibandingkan Moslem. Menurut lembaga ini, sangat tidak pas menyebut umat Islam dengan kata Moslem karena kata ini sangat sensitif untuk digunakan yang cenderung merendahkan.
Bagi banyak orang, dua kata ini (Muslim atau Moslem) hanya diferensiasi ejaan dan masalah linguistik (bahasa) saja. Kata Muslim atau Moslem banyak digunakan sebagai kata benda. Tetapi sejumlah intelektual dan penulis Muslim, justru menggunakan kata Moslem sebagai kata sifat.
Dengan pengetahuan yang semakin berkembang, sejumlah jurnalis di Eropa secara perlahan sudah beralih dan menggunakan kata Muslim dalam beberapa tahun terakhir ini untuk menyebut orang Islam. Namun demikian, sejumlah lembaga yang sudah ada termasuk lembaga yang didirikan umat Islam sendiri, masih menggunakan kata Moslem. Misalnya, The American Moslem Foundation san jurnal Dunia Islam masih menyebut dirinya dengan The Moslem World.
Perlu diketahui, sejak tahun 1960-an, banyak penulis Inggris yang enggan menuliskan kata Moslem, Mohammedans, atau Mahometans untuk menyebut orang Islam. Karena mereka tahu bahwa kata tersebut terlalu merendahkan. Dan kamus Oxford, kamus terbaik bahasa Inggris, sebenarnya sudah menggunakan kata Muslim sejak tahun 1984.
Dengan kondisi ini, masih kita mau menggunakan kata Moslem dibandingkan Muslim untuk menuliskan di curriculum vitae atau saat ditanya orang Barat? Jadi, tulis dan katakana I’m Muslim, not Moslem. (syafik).
sumber: http://kerendanunik.wordpress.com/2012/02/09/tulislah-muslim-bukan-moslem/

Dilema Muslim Belajar Bahasa Inggris

Keutamaan Bahasa Arab

Tidak perlu diragukan lagi, memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Sungguh sangat menyedihkan sekali, apa yang telah menimpa kaum muslimin saat ini, hanya segelintir dari mereka yang mau mempelajari bahasa Arab dengan serius. Hal ini memang sangat wajar karena di zaman modern ini banyak sekali kaum muslimin tenggelam dalam tujuan dunia yang fana, Sehingga mereka enggan dan malas mempelajari bahasa Arab. Karena mereka tahu tidak ada hasil duniawi yang bisa diharapkan jika pandai berbahasa Arab. Berbeda dengan mempelajari bahasa Inggris, kaum muslimin di saat ini begitu semangat sekali belajar bahasa Inggris, karena mereka tahu banyak tujuan dunia yang bisa diperoleh jika pandai bahasa Inggris, sehingga kita dapati mereka rela untuk meluangkan waktu yang lama dan biaya yang banyak untuk bisa menguasai bahasa ini. Sehingga kursus-kursus bahasa Inggris sangat laris dan menjamur dimana-mana walaupun dengan biaya yang tak terkira. Namun bagaimana dengan kursus bahasa Arab…???

seandainya mereka benar-benar yakin terhadap janji Allah ta’ala untuk orang yang menyibukkan diri untuk mencari keridhoanNya, serta yakin akan kenikmatan surga dengan kekekalannya, niscaya mereka akan berusaha keras untuk mempelajari bahasa arab. Karena ia adalah sarana yang efektif untuk memahami agama-Nya.
Kenyataan ini tidak menunjukkan larangan mempelajari bahasa Inggris ataupun lainnya. Tapi yang tercela adalah orang yang tidak memberikan porsi yang adil terhadap bahasa arab. Seyogyanya mereka juga bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari bahasa Arab.

Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “Bolehkah seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris untuk membantu dakwah ?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat, mempelajari bahasa Inggris tidak diragukan lagi merupakan sebuah sarana. Bahasa Inggris menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk tujuan yang baik, dan akan menjadi jelek jika digunakan untuk tujuan yang jelek. Namun yang harus dihindari adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab karena hal itu tidak boleh. Aku mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab, bahkan sebagian mereka yang tertipu lagi mengekor (meniru-niru), mengajarkan anak-anak mereka ucapan “selamat berpisah” bukan dengan bahasa kaum muslimin. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berkata “bye-bye” ketika akan berpisah dan yang semisalnya. Mengganti bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang paling mulia, dengan bahasa Inggris adalah haram. Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana untuk berdakwah maka tidak diragukan lagi kebolehannya bahwa kadang-kadang hal itu bisa menjadi wajib. Walaupun aku tidak mempelajari bahasa Inggris namun aku berangan-angan mempelajarinya. terkadang aku merasa sangat perlu bahasa Inggris karena penterjemah tidak mungkin bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku secara sempurna.” (Kitabul ‘Ilmi).

Dan termasuk hal yang sangat menyedihkan, didapati seorang muslim begitu bangga jika bisa berbahasa Inggris dengan fasih namun mengenai bahasa Arab dia tidak tahu?? Kalau keadaannya sudah seperti ini bagaimana bisa diharapkan Islam maju dan jaya seperti dahulu. Bagaimana mungkin mereka bisa memahami syari’at dengan benar kalau mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Arab…???
Hukum Orang Yang Mampu Berbahasa Arab Namun Berbicara Menggunakan Bahasa Selain Bahasa Arab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Dibenci seseorang berbicara dengan bahasa selain bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan syiar Islam dan kaum muslimin. Bahasa merupakan syiar terbesar umat-umat, karena dengan bahasa dapat diketahui ciri khas masing-masing umat.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).
Asy-Syafi’iy berkata sebagaimana diriwayatkan As-Silafi dengan sanadnya sampai kepada Muhammad bin Abdullah bin Al Hakam, beliau berkata: “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-syafi’iy berkata: “Allah menamakan orang-orang yang mencari karunia Allah melalui jual beli (berdagang) dengan nama tu’jar (tujjar dalam bahasa Arab artinya para pedagang-pent), kemudian Rosululloh juga menamakan mereka dengan penamaan yang Allah telah berikan, yaitu (tujjar) dengan bahasa arab. Sedangkan “samasiroh” adalah penamaan dengan bahasa `ajam (selain arab). Maka kami tidak menyukai seseorang yang mengerti bahasa arab menamai para pedagang kecuali dengan nama tujjar dan janganlah orang tersebut berbahasa Arab lalu dia menamakan sesuatu (apapun juga-pent) dengan bahasa `ajam. Hal ini karena bahasa Arab adalah bahasa yang telah dipilih oleh Allah, sehingga Allah menurunkan kitab-Nya yang dengan bahasa Arab dan menjadikan bahasa Arab merupakan bahasa penutup para Nabi, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kami katakan seyogyanya setiap orang yang mampu belajar bahasa Arab mempelajarinya, karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling pantas dicintai tanpa harus melarang seseorang berbicara dengan bahasa yang lain. Imam Syafi’iy membenci orang yang mampu berbahasa Arab namun dia tidak berbahasa Arab atau dia berbahasa Arab namun mencampurinya dengan bahasa `ajam.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Abu Bakar bin ‘Ali Syaibah meriwayatkan dalam Al Mushanaf: “Dari Umar bin Khattab, beliau berkata: Tidaklah seorang belajar bahasa Persia kecuali menipu, tidaklah seseorang menipu kecuali berkurang kehormatannya. Dan Atho’ (seorang tabi’in) berkata: Janganlah kamu belajar bahasa-bahasa ajam dan janganlah karnu masuk gereja – gereja mereka karena sesungguhnya Allah menimpakan kemurkaan-Nya kepada mereka, (Iqtidho Shirotil Mustaqim). Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad berkata: “Tanda keimanan pada orang ‘ajam (non arab) adalah cintanya terhadap bahasa arab.” Dan adapun membiasakan berkomunikasi dengan bahasa selain Arab, yang mana bahasa Arab merupakan syi’ar Islam dan bahasa Al-Qur’an, sehingga bahasa selain arab menjadi kebiasaan bagi penduduk suatu daerah, keluarga, seseorang dengan sahabatnya, para pedagang atau para pejabat atau bagi para karyawan atau para ahli fikih, maka tidak disangsikan lagi hal ini dibenci. Karena sesungguhnya hal itu termasuk tasyabuh (menyerupai) dengan orang `ajam dan itu hukumnya makruh.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Khurasan, yang penduduk kedua kota tersebut berbahasa Persia serta menduduki Maghrib, yang penduduknya berbahasa Barbar, maka kaum muslimin membiasakan penduduk kota tersebut untuk berbahasa Arab, hingga seluruh penduduk kota tersebut berbahasa Arab, baik muslimnya maupun kafirnya. Demikianlah Khurasan dahulu kala. Namun kemudian mereka menyepelekan bahasa Arab, dan mereka kembali membiasakan bahasa Persia sehingga akhirnya menjadi bahasa mereka. Dan mayoritas mereka pun menjauhi bahasa Arab. Tidak disangsikan lagi bahwa hal ini adalah makruh. (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Pengaruh Bahasa Arab Dalam Kehidupan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Merupakan metode yang baik adalah membiasakan berkomunikasi dengan bahasa Arab hingga anak kecil sekalipun dilatih berbahasa Arab di rumah dan di kantor, hingga nampaklah syi’ar Islam dan kaum muslimin. Hal ini mempermudah kaum muslimin urituk memahami makna Al-Kitab dan As-Sunnah serta perkataan para salafush shalih. Lain halnya dengan orang yang terbiasa berbicara dengan satu bahasa lalu ingin pindah ke bahasa lain maka hal itu sangat sulit baginya. Dan ketahuilah…!!! membiasakan berbahasa Arab sangat berpengaruh terhadap akal, akhlak dan agama. Juga sangat berpengaruh dalam usaha mencontoh mereka dan memberi dampak positif terhadap akal, agama dan tingkah laku.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahasa Arab memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan, akhlak, agama. Orang yang pandai bahasa Arab cenderung senang membaca kitab-kitab para ulama yang berbahasa Arab dan tentu senang juga membaca dan menghafal Al-Qur’an serta hadits-hadits Rasulullah. Sehingga hal ini bisa memperbagus akhlak dan agamanya. Berbeda dengan orang yang pandai berbahasa Inggris (namun tanpa dibekali dengan ilmu agama yang baik), dia cenderung senang membaca buku berbahasa Inggris yang jelas kebanyakannya merupakan karya orang kafir. Sehingga mulailah ia mempelajari kehidupan orang kafir sedikit demi sedikit. Mau tidak mau iapun harus mempelajari cara pengucapan dan percakapan yang benar melalui mereka, agar dia bisa memperbagus bahasa Inggrisnya. Bisa jadi akhirnya ia pun senang mempelajari dan menghafal lagu-lagu berbahasa Inggris (yang kebanyakan isinya berisi maksiat) dan tanpa sadar diapun mengidolakan artis atau tokoh barat serta senang mengikuti gaya-gaya mereka. Akhlaknya pun mulai meniru akhlak orang barat (orang kafir), dan mengagungkan orang kafir serta takjub pada kehebatan mereka. Akhirnya, diapun terjatuh dalam tasyabbuh (meniru-niru) terhadap orang kafir, menganggap kaum muslimin terbelakang dan ujung-ujungnya dia lalai dari mempelajari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hukum Mempelajari Bahasa Arab

Syaikhul Islam Berkata: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:
“Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata: Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”
Dan pada riwayat lain, Beliau (Umar bin Khattab) berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah faroidh (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Penutup

Bahasa Arab adalah bahasa Agama Islam dan bahasa Al-Qur’an, seseorang tidak akan dapat memahami kitab dan sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan Bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap permasalahan agama.
Sungguh sangat ironis dan menyedihkan, sekolah-sekolah dinegeri kita, bahasa Arab tersisihkan oleh bahasa-bahasa lain, padahal mayoritas penduduk negeri kita adalah beragama Islam, sehingga keadaan kaum muslimin dinegeri ini jauh dari tuntunan Allah ta’ala dan Rasul-Nya.
Maka seyogyanya anda sekalian wahai penebar kebaikan… mempunyai andil dan peran dalam memasyarakatkan serta menyadarkan segenap lapisan masyarakat akan pentingya bahasa Al Qur’an ini, dengan segala kemampuan yang dimiliki, semoga Allah menolong kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada ajaran Rasul-Nya yang shohih. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah ta’ala. Segala puji hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.
 
sumber: https://www.facebook.com/Aplikasi.Praktis.Belajar.Bahasa.Arab/posts/300040326693638

Kaji literatur Islam, Ponpes Al-Hikam pakai Bahasa Inggris

Kaji literatur Islam, Ponpes Al-Hikam pakai Bahasa Inggris

Oleh: R Ratna Purnama
Rabu,  17 Juli 2013  −  19:53 WIB
Mengkaji agama Islam dengan Bahasa Indonesia dan Arab adalah hal wajar. Namun, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hikam II di Kukusan, Beji, khusus bulan Ramadan mengkaji literatur Islam menggunakan Bahasa Inggris.
Sindonews.com - Mengkaji agama Islam dengan Bahasa Indonesia dan Arab adalah hal wajar. Namun, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hikam II di Kukusan, Beji, khusus bulan Ramadan mengkaji literatur Islam menggunakan Bahasa Inggris.

Seperti membahas kitab Riyadhus Shalihin (hadis) pada bagian syarah atau penjelasannya menggunakan Bahasa Inggris.

"Kalau mengkaji Alquran, kitab kuning itu sudah biasa di pesantren-pesantren. Namun, kalau mengkaji ilmu dan ajaran Islam dengan Bahasa Inggris sangat jarang. Apalagi, menggali literatur yang terpendam atau berserakan menggunakan teks Inggris," kata Direktur Kulliyatul Quran Al-Hikam II Arif Zamhari di Depok, Rabu (17/7/2013).

Arif menuturkan, metode penyampaiannya bisa melalui santri yang kebanyakan mahasiswa ini diskusi mendengarkan ceramah dari ustaz. Selain itu, mereka juga menggunakan metode diskusi. Bahkan, dalam diskusi terjadi perdebatan dan menggunakan bahasa Inggris.

"Selain mampu menguasai materi, santri penghafal Alquran ini juga diharapkan mahir berbahasa Inggris. Baik, secara tulisan maupun lisan," tuturnya.

Hal senada diutarakan Pengurus Pesantren Al-Hikam II M Yusron As-Shidqi. Dia mengatakan, banyak rangkaian program di bulan suci Ramadan ini.

Di antaranya, kajian hadis dengan Bahasa Inggris, khataman kitab kuning dengan KH. Hasyim Muzadi mengajar Kitab Al-Hikam, tadarus dan lainnya. Di samping itu, selama satu minggu juga ada bazar dan ceramah agama yang disiarkan secara live oleh salah satu stasiun televisi swasta.

"Khusus pengajian ramadan, santri diwajibkan mengikutinya sampai 20 Ramadan. Pengajiannya, kitab Al-Hikam  jam 09.00-10.30 WIB, dilanjutkan pengajian kitab kuning lainnya sehabis zuhur dan selepas trawih," paparnya.

Disamping itu, mereka juga berlatih bahasa Arab. Yaitu, melalui diskusi dengan Bahasa Arab membahas permasalahan agama dan isu yang sedang hangat. Untuk itu, lanjutnya, para siswa diajarkan Arabic Writing (penulisan Bahasa Arab), pemahaman teks, dan penyusunan kosa kata.

"Jadi, selain bahasa Inggris, mereka juga dibekali dengan Bahasa Arab. Mengenai materi, bisa tafsir, akhlaq, tasawuf dan lainnya. Apalagi, sekaran ramadan saatnya mengekang hawa nafsu. Di waktu itu, sisi  ruhaninya cenderung naik.  Materi keagamaan akan akan cepat masuknya," pungkasnya.(mhd)

sumber: http://ramadan.sindonews.com/read/2013/07/17/68/762323/kaji-literatur-islam-ponpes-al-hikam-pakai-bahasa-inggris
views: 193x

Integrasi Pesan Islam dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

zuliatiDr. Zuliati Rohmah, M.Pd.
Dosen pada Fakultas Adab
Dalam konteks masyarakat Indonesia, terutama yang berbasis Islam, proses pembelajaran Bahasa Inggris tidak jarang menghadirkan kebingungan di kalangan para siswa. Sebagian kalangan muslim ada yang memandang  bahwa bahasa Inggris adalah bahasa milik orang kafir. Hal ini tidak bisa disalahkan karena memang sebagian besar negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari  penduduknya mayoritas non muslim. Karena itu, mereka juga mengingatkan agar pembelajaran bahasa Inggris haruslah ‘murni’ dalam artian tidak ada agenda terselubung untuk menggeser nilai Islam dengan nilai barat.
Namun, pesan ini tidak gampang untuk dilakukan. Secara sengaja ataupun tidak, pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing mengandung pengenalan norma dan budaya yang terbawa dalam Bahasa Inggris yang tidak jarang berbeda atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Rohmah (2012) menjelaskan bahwa pengajaran budaya tak terhindarkan dalam pembelajaran bahasa karena “many linguistic symbols cannot be interprepet without knowing their cultural contents. Several cultural aspects do exist beyond the lexical symbols.”
Untuk mengakomodasi keberatan kalangan ini, para penulis materi pelajaran dan guru Bahasa Inggris perlu memodifikasi peran bahasa Inggris dari bahasa imperialistik (Phillipson, 1992) menjadi bahasa instrumental. Sebagai bahasa imperialistik, bahasa Inggris mendominasi bahasa lokal; nilai budaya yang menempel pada bahasa tersebut juga mendominasi budaya lokal—baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan dipelajarinya bahasa Inggris sebatas sebagai bahasa instrumental, bahasa Inggris dipandang secara netral, tidak mendominasi, dan hanya dipakai sebagai alat untuk memahami perkembangan dunia, termasuk perkembangan teknologinya. Hanya saja, hal ini tidak selalu bisa dilakukan mengingat kode-kode kebahasaan tidak dapat diajarkan secara terpisah. Proses transmisi sosial budaya terjadi dalam berbagai tingkatan: isi latihan soal, wacana budaya dalam buku teks dan sikap guru itu sendiri terhadap bahasa yang diajarkannya (Buttjes, 1990; Lessard-Clouston, 1997).
Untuk menyiasati hal tersebut, para guru dan penulis materi perlu mengintegrasikan nilai Islam dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Mereka dapat bercermin pada penggunaan bahasa Inggris di kalangan Muslim yang hidup di English speaking countries. Lalu, bagaimana caranya? Rohmah (2012) merekomendasikan tiga cara berikut: meluncurkan buku teks khusus, menggunakan materi otentik dan  menggunakan ELTIS Islamic Life Resource Pack.
Menulis dan Menggunakan Buku Teks Bahasa Inggris Khusus
Pilihan pertama ini dapat dilakukan setelah seorang penulis buku atau sebuah tim meluangkan waktu khusus untuk menulis buku teks bahasa Inggris yang memuat berbagai pesan dan ajaran Islam. Buku semacam ini belum tersedia di pasaran. Draf buku yang pernah ditulis untuk keperluan ini adalah ‘English in Context’ oleh tim ISELP dengan pendanaan dari program ‘Learning Assistance Program for Islamic Schools’ (LAPIS). Namun draf buku ini hanya ditulis untuk kelas VII dan belum sempat dipublikasikan secara luas.
Di lingkungan IAIN Sunan Ampel, penulis bersama dengan tim telah menulis buku ‘English for Islamic Studies.’ Setelah dipergunakan selama beberapa tahun, buku ini perlu direvisi untuk perbaikan dan diperkaya dengan berbagai aktivitas pembelajaran yang menarik. Selain itu, buku yang dimaksudkan untuk pembelajaran ‘General English’ juga perlu direvisi dengan memasukkan teks-teks yang mengandung pesan Islam.
Pesan Islam dapat diintegrasikan dalam buku teks bahasa Inggris dengan cara:
  • Langsung, yaitu menyebutkan topik dan pesan Islam secara eksplisit. Misalnya, topik “How to do Wudlu,”  “Muslim to Muslim”  “Five Pillars in Islam” dan “Economic Concept in Islam” menunjukkan pesan Islam secara terbuka sehingga siswa bisa memahami berbagai pesan dan ajaran Islam yang tertulis dalam teksberbahasa Inggris. Siswapun berlatih mengungkapkan ide mereka tentang topik-topik di atas dalam bahasa Inggris.
  • Inklusif, yaitu memasukkan pesan-pesan Islam secara tidak langsung melalui gambar, nama, bangunan, aktifitas kebahasaan dan sebagainya. Gambar yang dipakai dalam buku dapat menyesuaikan dengan realitas masyarakat muslim, misalnya, gambar perempuan berkerudung, gambar lelaki berpeci atau bergamis, gambar masjid. Pesan Islam tentang kebersihan dapat diintegrasikan dalam materi “Can you keep the floor clean, please?” Berbagai aktifitas seorang muslim mulai wudlu, sholat, berdoa, menghadiri pengajian, silaturahmi dan lain-lain dapat diintegrasikan dalam materi berjudul “Daily Activities.”
Menggunakan Authentic Materials
Selain menggunakan buku teks, pengintegrasian pesan Islam dalam pembelajaran bahasa Inggris bisa dilakukan dengan menggunakan materi otentik yang diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat muslim di English speaking countries untuk dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Materi otentik dapat berupa surat, katalog, novel cerita pendek, surat kabar, majalah, brosur, kalender, kartu pos, lagu, DVD, rekaman radio, rekaman TV dalam bahasa Inggris. IQRA’ foundation yang bermarkas di Chicago adalah salah satu penerbit materi-materi keIslaman yang hasil terbitannya bisa diadopsi.
Banyak keuntungan pemakaian materi otentik dalam proses belajar mengajar. Antara lain: memotivasi siswa, memberikan informasi tentang budaya Islam kalangan muslim di English speaking countries, menghadirkan kreatifitas yang lebih tinggi dan menjawab kebutuhan siswa untuk berkomunikasi secara alami. Namun, ada juga kekurangan dalam penggunaan materi otentik dalam kelas, antara lain, tingkat kesulitan materi belum tentu sesuai dengan kelas. Materi otentik juga tidak mengandung petunjuk penggunaannya di kelas sehingga guru harus memilih materi dan mendesain kegiatan yang cocok  untuk materi tersebut.
Menggunakan ELTIS Islamic Life Resource Pack
Materi yang telah disusun oleh Tim English Language Training for Islamic Schools (ELTIS) ini merupakan materi suplemen untuk tingkat sekolah menengah pertama. Namun, materi ini dapat dipergunakan untuk tingkat sekolah yang lain dengan cara memodifikasi aktifitas sesuai dengan panduan guru.
Paket ini memiliki 12 set ready-to-use worksheet dan setiap set terdiri dari 20 lembar. Lembar kerja terbuat dari kertas tebal yang dilaminasi sehingga dapat digunakan berulang-ulang. Paket ini juga dilengkapi dengan Teacher’s Guide yang berisi petunjuk tentang langkah-langkah pembelajaran bagi guru dan siswa.
Singkat kata, pembelajaran Bahasa Inggris bisa dilaksanakan dengan hasil yang maksimal baik dari segi penguasaan bahasa Inggris maupun penanaman nilai Islam dalam diri peserta didik dengan cara menulis dan menggunakan buku teks bahasa Inggris khusus, menggunakan authentic materials, dan/atau menggunakan ELTIS Islamic life resource pack. 
Referensi:
Buttjes, D. (1990). Teaching foreign language and culture: Social impact and political significance. Language Learning Journal, 2, 53-57.
Phillipson, R. (1992). Linguistic imperialism, Oxford: Oxford University Press.
Rohmah, Z (2012). Incorporating Islamic messages in the English teaching in the Indonesian context. International Journal of Social Science & Education, 2(2), 2223-4934.

sumber: http://www.sunan-ampel.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1013%3Aintegrasi-pesan-islam-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris&catid=45%3Akolom-p-rektor&lang=in