Englishformuslim: kemampuan Berbahasa Inggris di IndonesiaRendah
Setidaknya ada 5 Alasan Mengapa Muslim harus bisa Bahasa Inggris: 1. Pendidikan yang lebih baik 2. Karir yang lebih cemerlang 3. Mempermudah Traveling Ke luar Negeri 4. Meningkatkan Kepercaan Diri 5. Dakwah Islamiyah ke orang Asing, Metode EM ini dirancang tidak hanya untuk Muslim tapi untuk Non-Muslim yang ingin belajar Islam lewat belajar bahasa Inggris

Sabtu, 06 April 2013

kemampuan Berbahasa Inggris di IndonesiaRendah

kemampuan Berbahasa Inggris di Asia Rendah

19/09/2011 20:24
Liputan6.com, Jakarta: EF English Proficiency Index berhasil menemukan beberapa kunci yang menarik selama data uji unik (metodologi khusus) pada lebih dari dua juta orang di 44 negara yang menggunakan tes gratis secara online selama kurun waktu tiga tahun yakni 2007-2009. Salah satunya adalah kemampuan berbahasa Inggris di Asia adalah rendah.

India sekarang tidak lebih cakap berbahasa Inggris dibanding Cina walaupun punya warisan sebagai kolonial Inggris dan reputasi sebagai negara berbahasa Inggris. Tentu sulit mengestimasi jumlah pasti pengguna bahasa Inggris di dua negara itu meski survey menunjukkan jumlah yang hampir sama. Cina diperkirakan melampaui India di beberapa tahun mendatang.

Temuan lainnya yakni Spanyol dan Italia tertinggal jauh dari negara Eropa Barat lainnya. Eropa Utara adalah pengguna bahasa Inggris tertinggi di dunia tentu bukan gambaran utama. Sekarang 90 persen siswa di Eropa wajib belajar bahasa Inggris di sekolah. Ditambah perusahaan dan pabrik di Eropa mengharuskan pekerjanya menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Yang mengejutkan lagi adalah bahasa Spanyol mengalahkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di Amerika Latin. Amerika Latin menjadi daerah terbawah dengan kemampuan berbahasa Inggris yang hampir tidak melampaui batas akhir kemahiran tes. Ini dapat menunjukkan berbahasa Spanyol lebih penting di karena digunakan untuk bisnis internasional, diplomasi dan perjalanan.

Terakhir, negara dengan kemampuan berbahasa Inggris baik mempunyai pendapatan per kapita tinggi. EF EPI menunjukkan hubungan antara kemampuan berbahasa Inggris dengan penghasilan tinggi. Kasus sebab dan akibat. Negara berpenghasilan tinggi punya tendensi berinvestasi lebih di bidang pendidikan termasuk bahasa Inggris, bahasa pengantar utama di ekonomi global.(JUM)
 
 
 
 

Selasa, 18 Oktober 2011

2015, Bahasa Inggris Jadi Bahasa ‘Resmi’ ASEAN


Jakarta – Penggunaan bahasa Inggris disepakati sebagai bahasa ‘resmi’ di kawasan Asean pada 2015, seiring terbentuknya Komunitas Asean. Karenanya, penguasaan bahasa Inggris begitu penting dalam menjalin kerjasama di kawasan ini.
“Tidak bisa dipungkiri, meski tiga dari 10 negara Asean memiliki kesamaan bahasa Melayu, namun bahasa Inggris tetap yang utama,” kata Jenny Lee, COO & Director (Education Programe) Internastional Test Center (ITC), Kamis (13/10), di sela ETS Leadership Series 2011, Towards a Community of Nations (Asean 2015) Be Ready for Impact!, yang diadakan ITC, di Jakarta.
Karenanya, dalam seminar ini membahas pengembangan pembelajaran bahasa Inggris dan asesmen terkait yang dipakai di negara-negara anggota Asean. Selain itu, membahas tantangan dan peluang yang dihadapi komunitas Asean untuk meningkatkan kecakapan bahasa Inggris dalam komunikasi internasional.
“Kesepakatan para pemimpin Asean untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa baku di kawasan Asean, mendorong kami untuk mengumpulkan para ahli dari negara-negara Asean dan pejabat pendidikan kementerian terkait untuk memberikan masukan,” tambahnya.
Para ahli, kata Victor Chan, CEO ITC, menyoroti norma-norma penilaian pembelajaran bahasa Inggris dan tren di negara masing-masing. Terutama penggunaan Test of English for International Communication (TOEIC) untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris untuk komunikasi internasional.
TOEIC ini mengukur empat empat area utama dalam berbahasa, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis. Test ini akui sebagai instrumen bagi pelaku bisnis di dunia dalam merekrut keterampilan calon pekerja. Ada sebanyak 70 ribu lowongan kerja di negara Asean yang bisa menerima mereka yang bersertifikasi TOEIC. Berbeda dengan TOEFL, yang hanya dipergunakan untuk melanjutkan study di luar negeri.
“Kami sangat mendorong penggunaan bahasa Inggris di Indonesia dengan menjadi pembicara di berbagai seminar internasional untuk memotivasi ketakutan dan pemahaman yang salah tentang penggunaan bahasa Inggris,” tambahnya.
Di Indonesia sendiri masih terjadi kesenjangan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah Indonesia ikut membantu permasalahan ini. (ndr)


Tidak ada komentar :

Posting Komentar